Potensi Kuliner di Kotagede Pada masa lalu, kue tradisional ini sempat mengalami kepunahan dan tak lagi di buat orang sejalan dengan runtuhnya kebudayaan kerajaan Mataram pada masa lampau. Meski pusat penjualannya di masa lalu, yakni di pasar legi yang kini berubah menjadi pasar kotagede masih berdiri tegak dan aktif menjalankan roda ekonomi sampai sekarang.

Kepunahan Kipo akhirnya berakhir ketika pada tahun 80an seorang bernama Paijem Djito Suhardjo kembali mengenalkan Kipo ke masyarakat dengan menggunakan kipo sebagai menu andalannya dalam mengikuti lomba penganan tradisional dengan tepung beras. Kesederhanaan cara pembuatan dan teknik masak yang unik membuat hidangan ini mendapat prestasi tersendiri.

Selain itu roti kembang waru juga merupakan potensi kuliner unggulan Kotagede.

Kue Kembang Waru, penganan khas Kotagede, telah ada sejak zaman dulu. Basiran Basis Hargito, pembuat kue kembang waru di Kotagede, menceritakan bahwa zaman dulu kue ini jadi salah satu suguhan yang biasa disajikan saat ada hajatan seperti mitoniselapanantekenanmanten, atau lamaran. “Biasanya kalau kerabat keraton punya hajat selalu pakai kembang waru,” ujar pria 73 tahun ini ketika ditemui di kediamannya, Jalan Bumen, RT 24 RW 06, Purbayan, Kotagede.

Mengenai asal usul kue ini ia mengisahkan pada zaman dulu ada salah satu kerabat keraton, seorang juru masak, membuat roti berbentuk kembang waru karena Keraton Mataram dekat dengan Pasar Kotagede.“Di sekeliling pasar itu banyak pohon waru. Pohon waru itu pohon yang tinggi, cuma berbunga tidak pernah berbuah,” tuturnya.

Basis membuat kembang waru sejak tahun 1983. Kue kembang warunya merupakan salah satu yang paling dikenal di Kotagede. Pak Bas, sapaan akrabnya, menceritakan dikenalnya kembang waru miliknya tak lepas dari keaktifannya di panggung-panggung kesenian seperti kethoprak dan lawak sejak masa muda.